
Sutradara adalah pimpinan dalam sebuah pertunjukan teater. Dia bukan pelatih. Sutradara adalah orang yang berkemampuan menafsirkan lakon secara keseluruhan, dan dialah yang berwenang untuk meng-goalkan boleh atau tidak seorang pemain melakonkan peran yang dimainkannya dihadapan penonton sesuai dengan yang ditafsirkan. Sebelum latihan diujutkan, antara sutradara , pemain. Penata artistik terlebih dulu harus membahas naskah dan tokoh watak yang ada didalam naskah. Begitu ada kesapakatan penafsiran, tugas sutradaralah untuk memperhatikan jalannya latihan.
Apa-apa saja tugas sutradara? Sebagai seorang ahli yang menguasai bidangnya, sutradara yang pintar tidak akan pernah mengajari pemainnya bagaimana cara berakting yang benar. Semua ia serahkan pada kemampuan pemain yang telah menafsirkan peran sesuai dengan diskusi yang telah disepakati. Terkadang pemain syoor dengan peran yang dipercayakan padanya. Setiap kali latihan, ada saja ide yang baru ingin ia terapkan dalam latihan. Ide permainannya terus berkembang. Berkembangnya ide bukannya memperbagus latihan, tapi dapat membuat kacau jalannya latihan buat pemain yang lain. Maka tugas sutradaralah untuk me-rem ide-ide pemain yang sebenarnya bagus, tapi sipemain tidak konsisten dengan apa yang telah ia dapat.
Sutradara adalah koki handal yang dapat meramu masakan untuk banyak lidah. Seorang sutradara dituntut untuk mempelajari segala bidang kesenian dan ilmu-ilmu sosial budaya, politik, ekonomi dan eksak, karena seorang sutradara yang berwawasan luas, akan berhadapan dengan penonton yang memiliki latar belakang intelektual , kultur dan spiritual yang beraneka ragam.
Sutradara yang handal akan menyuguhkan tontonan yang dapat diterima dan disenangi seluruh penonton yang hadir. Ia akan menghidangkan sesuatu yang baru, walau sebenarnya sajiannya itu sebenarnya sudah tidak asing lagi oleh penonton. Tapi dikarenakan kemampuannya meramu konflik batin dan pikiran secara terus menerus dan menggelitik lewat pertanyaan-pertanyaan yang ia ujutkan dari adegan ke adegan yang membuat penonton terus terkesima untuk mengikuti sajian yang membuat penonton panasaran.
Apa saja kerja sutradara yang kita sebut sebagai koki handal itu? Pertama tentu saja sutrdara harus memilih naskah drama yang akan dipentaskan. Setelah ada naskah, sutradara membaca naskah sampai tuntas, lalu mencari casting( pemain) yang pas untuk memerankan tokoh yang ada di dalam naskah. Sutradara memberi gambaran sekilas peran-peran yang ada di dalam naskah, walau pemain punya hak menafsirkan sendiri peran untuk dikonsultasikan dengan sutradara.
Begitu casting telah ditetapkan, sebagai pimpinan, latihan awal secara kelompok diawali dengan membaca naskah oleh masing-masing pemain sesuai dengan peran yang ada. Membaca dapat dimulai dengan duduk atau berdiri. Sutradara mendengar kemampuan masing-masing pemain sambil memperhatikan ucapan-ucapan pemain yang benar-benar telah menghayati perannya.
Tarap berikutnya perhatian sutradara mengarah pada karakter pelaku. Pemain sudah mengenal apa, siapa, mengapa, kapan, dimana, bagaimana peran yang diperankan. Siapa peran itu. Berapa umurnya. Latar belakang sosialnya. Keadaan psychologinya dan kedudukannya.
Berikutnya, sutradara meningkatkan proses latihan pada penguasaan ruang ( Bloking). Bloking adalah bahagian terpenting dari seni lakon. Umumnya sisi pentas oleh sutradara dibagi menjadi 9 bahagian. Horizontal dibagi tiga. Demikian juga sisi pentas yang arahnya kebelakang (menjauhi layar) dibagi tiga. Sisi tengah kita sebut center, down center dan up center. Sisi kiri dan kanan sebagai down Left Stage (DLS), Center Left Stage (CLS) dan Up Left Stage (ULS). Untuk yang pentas kanan, Down Right Stage (DRS), kanan tengah Cenetr Right Stage (CRT) dan Up Right Stage (URS) .
Dengan bloking yang ditata sesuai dengan jalan cerita yang ditampilkan, dari kursi penonton akan terlihat adegan-adegan dengan bloking yang memiliki daya tarik yang memikat. Bila ada pemain yang merasa ditutupi oleh pemain lain, yang merasa ditutupi segera bergeser perlahan agar jangan sampai merusak adegan yang menjadi titik fokus.
Sutradara sebagai koki handal harus mampu menakar suasana percakapan dengan pengucapan yang keras, lambat atau dengan desah yang tepat, sehingga semua ucapan yang disampaikan dapat didengar dengan jelas oleh semua penonton dari yang duduk paling depan, ditengah dan yang duduk di kursi paling belakang.
Dengan ketepatan timing dan rhythim yang tepat, tontonan akan jadi tidak membosankan. Adegan yang ditampilkan jangan sampai terasa monotoon. Irama adalah perubahan dari waktu ke waktu selama pertunjukan berlangsung. Irama melingkupi gerak tubuh, gesture, suara, stage movement, bloking dari keseluruhan pertunjukan.
Bila latihan berjalan lamban , membosankan, dan tidak memikat, tugas sutradaralah untuk menatanya dengan tidak bosan-bosannya dan sabar.
Buat peserta yang rasa-rasanya ingin menjadi sutradara teater, film atau senetron, tampilkanlah pertunjukan yang komunikatif. Tontonan yang memikat, tontonan yang memiliki misi khusus, akan terbawa pulang oleh penonton untuk menjadi bahan renungan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar