TEATER
FAJAR SIDIK
Darwis Rifai Harahap
Ditahum 60-an naskah Emil Sanosa ini sering dipentaskan oleh grup-grup teater yang berseberangan ideologi dengan grup-grup teater dibawah naungan Komunis dengan lekranya. Pertentangan paham kala itu membangkitkan dramawan – dramawan yang bernaung di bawah panji-panji Lesbumi, HSBI dan yang lainnya untuk bangkit serentak mengimbangi naskah-naskah karya seniman Lekra yang isi ceritanya cenderung merendahkan tokoh agama sebagai antagonis dalam setiap lakon yang mereka mainkan. Seperti dalam naskah sandiwara ‘Bunga Rumah Makan,nya Utuy T. Sontani dan ‘Awal Dan Mira’nya Pramudya, tokoh haji adalah tokoh tuan tanah yang tamak, tukang kawin, dan lintah darat yang kerjanya selalu memeras rakyat jelata. Melihat sandiwara-sandiwara yang selalu menyudutkan tokoh ‘haji’ inilah makanya pengarang-pengarang yang ke-imanannya tak goyah akan pengaruh lawan yang selalu menyepelekan orang-orang yang ber-iman kepada Tuhan, lahirlah naskah-naskah sandiwara yang menempatkan tokoh haji sebagai manusia yang berbudi luhur, selalu sabar menghadapi setiap permasalahan, tokoh haji ditempatkan sebagai penyeimbang peristiwa diantara tokoh pratagonis dan antagonis.
Menonton sandiwara ‘Fajar Sidik’ karya Emil Sanosa yang di mainkan oleh anak-anak Dlick Teater Team tanggal 13 Desember 2010 lalu, memaori penulis kembali melambung jauh ke 40 tahun silam, disaat penulis masih remaja dan ikut aktif di teater sekolah saat memainkan sandiwara-sandiwara yang bernafaskan Islam seperti Bilal Bi Rabah, Ayahku Pulang, dan Masitah. Naskah Fajar Sidik adalah naskah sandiwara yang paling sering di mainkan. Naskah epos perjuangan yang menceritakan bagaiman sulitnya bagi seorang komandan grilya untuk menentukan pilihan pada tawanan yan g ditangkap sebagai penghianat, sementara tawanan itu adalah anak kandung guru dan abang kandung kekasihnya Zulaiha yang sangat dicintainya.
Ahmad dendam pada Maryoso karena ibunya tewas tertembak saat Belanda menyerbu pasantren yang dicurigai Belanda sebagai tempat persembunyian para pejuang. Ahmad menyalahkan Maryoso sebagai komandan. Untuk melampiaskan dendamnya, Ahmad membakar pasantren ayahnya agar para pejuang tidak lagi mendapat tempat untuk bersembunyi. Saat pesawat terbang belanda mengitari daerah pertahanan pejuang, Maryoso memerogoki Ahmad sedang mengirimkan isyarat lewat cermin yang bias cahayanya dipantulkan ke arah pesawat terbang sebagai tanda bahwa keberadaan pejuang ada disekitar Ahmad memberi tanda.
Zulaiha ( Yusra Lubis) adik kandung Ahmad tidak terima abang kandungnya dihukum mati. Ia mendatangi Maryoso di pos komando. Ternyata yang pertama di temui Zulaihan bukan Maryoso, tapi pak Kiyai, ayah kandungnya yang lebih dulu datang untuk memberi dukungan pada Maryoso agar jangan ragu menjatuhkan hukuman mati pada seorang penghianat walau penghianat itu adalah anak kandungnya sendiri. Dukungan Pak Kiyai tentu saja ditantang oleh Zulaiha. Ia tidak ingin abang kandungnya mati di depan regu tembak dengan tuduhan sebagai seorang penghianat. Abangnya melakukan semua itu karena ia tidak dapat menerima kematian ibu kandungnya yang disebabkan peluru Maryoso yang salah sasaran. Ahmad melakukan semua itu karena sangat sayang pada Ibu yang melahirkannya. Buat Zulaiha, tindakan abangnya itu bukanlah sebuah penghianatan. Tapi bakti seorang anak kandung yang sangat sayang pada ibunya. Perdebatan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah atas tewasnya Ibu Ahmad saat terjadi kontak senajata antara pasukan Belanda dan pejuang di pasantren Pak kiyai, buat Maryoso ( Rizky ) tidak perlu didebatkan. Maryoso menantang Ahmad ( Jali Kendi ) untuk duel pistol agar dendam Ahmad padanya dapat dituntaskan. Namun Ahmad tak mampu menuntaskan dendam kesumatnya dihadapan ayah kandungnya Pak Kyai ( AndiMukly). Ahmad tersedu dalam pelukan Pak Kiyai yang dengan tenang menerima hukuman yang dijatuhkan Maryoso pada putra kandung satu-satunya. Dapat kita tebak, sandiwara epos perjuangan yang berdurasi sekitar satu jam itu, terasa sangat lamban sekali dikarenakan pengaturan tempo yang sangat lambat dalam menyampaikan ucapan-ucapan yang artikulasinya tak begitu jelas di deretan penonton paling belakang. Namun apa yang disajikan D’Lick Teater Team tidak sepenuhnya mengecewakan karena Yusra Lubis sebagai Zulaiha mampu manaikkan kapasitas permainan guna menutupi kelemahan pemain lain yang sebenarnya tak perlu terjadi. Petang tanggal 13 Desember 2010 itu, Yusra Lubis bermain cukup baik, sayang, kemampuan Yusra tidak diimbangi bloking dan tempo permainan yang pas dan timing yang tepat guna mengangkat sandiwara ‘Fajar Sidik’ menjadi sebuah sandiwara yang penuh aksen. Pada hal di beberapa bahagian adegan, kalimat-kalimat yang dilontarkan Maryoso dan Ahmad, bila pemain dapat menaikkan sedikit lagi volume suaranya, emosi dan movement, bukan tidak mungkin sandiwara Fajar Sidik akan lebih terangkat dan menarik untuk dinikmati penonton yang begitu membeludak. Sebenarnya Yondik tanto telah memberikan sebuah pertunjukan yang memikat. Tapi pertunjukan itu akan lenih memikat lagi bila semua kelemahan-kelemahan yang ada dapat di perbaiki sebelum para pemain berhadapan dengan penontonnya. Seorang aktor haruslah cerdas. Kelenturan tubuh seorang pemain hanya bisa didapat melalui proses latihan-latihan dasar yang rutin dan intens. Kenapa vokal Yusra Lubis dapat menembus telinga penonton sampai ke kursi yang paling belakang? Kenapa Rizky , Andi dan Jali Kendi tidak semampu Yusra Lubis yang memerankan Zulaiha? Barangkali sebagai sutradara Yondik Tanto sedikit kurang jeli memperhatikan hal-hal yang ada kaitannya dengan olah rasa dan olah gerak. Kemampuan rata pemain sudah terlihat sejak awal pertunjukan. Dekorasi telalu melebar sehingga suasana tempat yang ingin digambarkan sebagai ruang kerja Maryoso sama sekali tidak mendukung suasana agresi perlawanan pada penjajahan Belanda. Dekor ruang dengan gambaran papan berlapis yang tampak rendah dari kursi penonton, menembus layar hitam yang ada dibelakang dinding sangat mengganggu suasan yang akan digambarkan. Bila saja penata artistik membagi dua panggung, set kiri eksterior dan set kanan interior, suasana malam yang hendak digambarkan mungkin akan lebih terasa mencekam. Kesimpulannya, sandiwara fajar Sidik petang tanggal 13 Desember 2010 lalu adalah sebuah pertunjukan teater konpensional yang sangat sederhana sekali.
Drh2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar