Senin, 27 Desember 2010

OPERET MALIN KANDANG

TARI

OPERET MALIN KANDANG
GEBYAR KREATIFITAS AKHIR TAHUN
Ternyata mahasiswa IAIN Sumatera Utara tidak mau ketinggalan dalam kegiatan seni kampus. Siang tanggal 20 Desember 2010 lalu, anak-anak muda yang mahasiswa dari berbagai jurusan itu telah menunjukkan kebolehannya dalam beraksi di atas pentas. Tidak tanggung-tanggung. Gebyar kreatifitas seni mahasiswa di bawah arahan Teguh menampilkan operet yang mereka beri judul ‘Malin Kandang’. Malin Kandang bukan Maling Kundang walau diawal cerita Maling Kandang juga pergi merantau dikarenakan kehidupan yang semakin sulit di kampung halaman. Malin Kandang meninggalkan Bundo, Nenek dan adik perempuannya yang sedikit idiot. Kepergian Malin Kandang diantar Bundo, Nenek dan adik tersayang dengan linangan air mata duka. Tapi begitu Malin Kandang menghilang dari pandangan, Nenk, bundo dan adik tersayang menari dan menyanyi gembira karena satu beban rumah tangga, yaitu si Malin Kandang yang tak memiliki pekerjaan telah pergi. Artinya, beban telah berkurang.
Diperantauan, Malin yang sedang kelaparan, bertemu dengan perempuan cantik. Perempuan itu menawarkan pada Malin kandang agar menemui temannya yang dapat menggandakan uang. Malin tertarik. Uang bekal yang dibawanya dari kampung diserahkan pada perempuan cantik yang katanya dapat menggandakan uang Malin menjadi sepuluh kali lipat. Apa yang terjadi? Uang Malin Kandang lenyap. Ternyata perempuan cantik itu memang penipu. Sudah banyak korbannya.
Semewntara di kampung, sepeninggal Malin Kandang, Bundo membeli teko ajaib dari apek-apek pedagang goni botot. Begitu teko di elus, dari dalam teko keluar jin gendut yang dapat mengabulkan tiga permintaan apa saja yang diminta Bundo. Mendengar itu tentu Bundo gembira karena ia akan menjadi orang kaya raya. Permintaan pertama Bundo tentu uang yang banyak. Permintaan langsung dikabulkan. Bundo gembira bukan main. Permintaan kedua yang diminta bundo juga dikabulkan. Tapi pada permintaan ketiga, jin tak sanggup mengabulkannya karena permintaan Bundo terlalu berat. Jin gendut meninggalkan Bundo bersama kekayaannya yang sudah ada.
Apa yang terjadi dengan si Malin Kandang? Karena kena tipu perempuan cantik di kota, Malin pulang kandang menemui Bundo yang sudah kaya raya. Melihat anaknya pulang dalam keadaan melarat, Bundo berpura-pura tak mengenali anaknya yang bernama Malin Kandang. Tidak itu saja, Bundo juga durhaka pada Nenek Malin Kandang yang tua renta. Bunda tak mengakui kalau nenek Malin Kandang adalah ibu kandungnya, termasuk anak perempuannya yang idiot. Karena marah, nenek mengutuk Bundo menjadi batu. Cerita parodi yang dikemas dalam bentuk operet itupun usai.
Semenjak awal pertunjukan sampai akhir, penonton yang memadati lapangan parkir IAIN Sumatera Utara tak henti-hentinya tertawa melihat ulah konyol teman-temannya yang ternyata mampu memelesetkan cerita Malin kandang yang disutradarai Teguh menjadi tontonan hiburan yang menyegarkan. Tidak itu saja, tari-tarian yang ditata oleh Fery juga sangat memikat. Penonton tidak hanya disuguhkan kreasi mahasiswa dalam bentuk pagelaran operet, tapi dalam kesempatan siang itu mereka juga menampilkan musikalisasi puisi yang ditampilkan sangat sahdu sekali. Begitu juga dengan tampilan musik perkusi yang mengandalkan alat-alat panci, ember dan kendang, siang itu kita dapat melihat talenta mahasiswa yang dapat diandalkan. Tanpa terasa, pertunjukan yang berdurasi sekitar satu jam lebih itu berakhir tanpa terasa .
Dari ke empat cabang seni yang ditampilkan SKM IAIN, yang terlihat kurang hanyalah dibidang seni rupa. Sepertinya bidang seni rupa kurang digeluti secara serius, tidak seperti bidang seni akting, sastra dan musik. Mudah-mudahan gebyar kreatifitas ditahun mendatang, seni rupa diberi kesempatan lebih. Paling tidak seni kaligrafi sudah dapat diikut sertakan dalam penampilan gebrakan kreafitas seni kampus IAIN Sumatera Utara.
Menggeluti seni kampus tidak harus mengabaikan kuliah. Tapi jadikan kegiatan seni untuk memacu diri agar lebih mengenal arti kehidupan ini. Dalam penampilan musikalisasi puisi, musik dan puisi yang dinyanyikan sudah cukup mempesona penonton yang hadir. Demikian juga dengan operet parodi “ Malin Kandang” yang dimainkan pendatang-pendatang baru, kemampuan akting rata-rata pemain sebenarnya sudah pantas untuk digiring menimba pengalaman diatas pentas Taman Budaya Sumatera Utara.
Keberhasilan ini tentu tidak terlepas dari binaan pandahulu mereka, Andi Mukhly dan Adek darma yang masih terus aktif membina anggota-anggota baru di teater Alif IAIN Sumatera Utara. Datang dan pergi memang terus akan terjadi. Tapi tetaplah akrab dengan dunia seni, karena seni dapat memperhalus budi.
2010des.

Tidak ada komentar: